Arti dan Fungsi Investor Relations



Oleh : Deasy Ratnasari
(Disampaikan sebagai tugas mata kuliah Kegiatan kehumasan)
 
Definisi Investor Relation 

 National Investor Relations institute ( NIRI ) menyebutkan definisi investor relations , yaitu “ kegiatan pemasaran korporat yang menggabungkan disiplin komunikasi dan pemasaran untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai kinerja dan prospek perusahaan kepada para investor dan calon investor “. Aktivitas IR ini bila dapat berjalan secara efektif akan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap nilai perusahaan secara keseluruhan , serta terhadap biaya modal perusahaan secara keseluruhan pula .

Proses pemasaran saham perusahaan meliputi identivikasi para pihak yang menjadi target ( investor instusi , perorangan dan karyawan serta andisis ) yang mungkin tertarik untuk melakukan investasi atau menganalisa saham perusahaan dengan menyajikan informasi historis dan prospektif mengenai perusahaan sehingga pihak-pihak tersebut dapat mengambil keputusan atau member rekomendasi untuk mengambil keputusan investasi berdasarkan informasi yang diperoleh .

Selanjutnya menurut NIRI , pemasran dan konteks ini tidak berarti “ selling “ atau menjual saham kepada investor . tetapi lebih merupakan suatu proses identifikasi masyarakat yang menjadi sasaran , serta memberikan edukasi kepada mereka tentang nilai saham perusahaan saat ini dan potensi nilainya dimasa yang akan datang .

Investor Relations juga merupakan kegiatan memenuhi kebutuhan organisasi terhadap maslah ekonomi . tepatnya agar pemegang saham mendapatkan informasi terkini tentang kebijakan ekonomi nasional yang mempengaruhi perusahaan . adapun kegiatan – kegiatan investor relations :
*      Mengembangkan publikasi /program komunikasi untuk investor : Kliping berita ( media monitoring ), Bulletin investor , Annual report , Website content.
*      Menangani even : Proses briefing , IPO , Public expose
*      Membina hubungan baik dengan media khusus financial
*      Melakukan survey persepsi .

A.   Fungsi dari Investor Relations

1.      Pengaturan presentasi dalam rapat – rapat manjamen perusahaan dengan para analis efek dan manajer investasi dalam perusahaan yang sudah go public . membantu penentuan target investor secara efektif dan menyelanggarakan pertemuan , baik satu persatu secara dengan beberapa investor institusi.

2.      Memberikan nasihat dalam penyusunan strategi , kebijakan dan program investor relations yang sehat dan consistent . memberikan sran mengenai program komunikasi yang redibel untuk keperluan masyarakat investor domestic maupun asing .

3.      Menyusun dan melaksanakan program komunikasi kritis guna mengantisipasi dan ataupun tindakan hokum pihak yang berwenang .

4.      Member petunjuk kepada tim manajemen tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pengungkapan informasi material yang harus disampaikan kepada public , masalah hangat dan praktisi tentang pelaporan keuangan .

5.      Menyusun dasar- dasar dan program komunikasi keuangan yang terpadu , berkualitas tinggi biaya yang efektif dan mengena terhadap sasaran yang diharapkan .

6.      Melatih diri dan memberikan masukan kepada direksi ataupun pejabat investor relations agar menjadi pembicara yang efektif dan konsisten , baik dalam koorperasi dengan para investor , analis , find manager , wartawan dan pihak – phak lainnya .

7.      Menyusun program investor relations yang proaktif dengan penempatan yang terpadu pada media yang sesuai dan efektif baik nasional maupun internasional , guna menyediakan dan menyampaikan berbagai informasi perusahaan yang penting untuk menumbuhkan kesadaran para investor  tentang perusahaan .

8.      Mengembangkan pesan – pesan dalam investor relations yang akan secara proaktif mempengaruhi visi strategi manajemen , kinerja keuangan dan operasional serta keahlian bisnis yang dimiliki perusahaan .

9.      Membantu manajemen dalam mengembangkan pendekatan – pendekatan strategis y6ang efektif yang berhubungan dengan pasar modal untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan menurunkan biaya modal perusahaan .

10.  Mengidentifikasi analisis sisi jual dan sisi beli serta manajer investasi dan kepentingan sesuai dengan karakteristik perusahaan . menetapkan forum-forum investor individu yang paling cocok dan efisien . memebantu manajemen dengan menentukan bauran pemegang saham yang ideal untuk mendukung tujuan – tujuan investasi perusahaan .

 Keperpustakaan :
 1.      Bill cantor , expert in action : inside Public Relations ; Longman , New York ( 1989 )
2.      Cutlip ,scoot M, Allen H and Glen M brom, Efective Public Relations , 7 th ed : Prentice Hall , New Jersey ( 1994 )
3.      Hardiman Ima , 400 Istilah Public Relations media dan Perikalanan : PT buku kita , Jakarta


Hakikat Komunikasi

Oleh: Rizkiani Safitri
(Disampaikan sebagai Tugas Kuliah Kegiatan Humas)

Komunikasi merupakan hal yang pasti dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya, demikian juga dengan hewan. Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupannya. Bahkan seorang bayi pun sudah dapat melakukan komunikasi, seperti ketika ia menangis itu bias jadi menandakan bahwa ia sedang lapar atau tidak nyaman. Maka jelaslah bahwa komunikasi adalah hal penting yang harus dipelajari dan dipahamai.
Setiap perilaku dapat menjadi komunikasi bila kita memberi makna terhadap perilaku orang lain atu perilaku kita sendiri. Setiap orang akan sulit untuk tidak berkomunikasi karena setiap perilaku berpotensi untuk menjadi komunikasi untuk ditafsirkan.
 
Pada saat seseorang tersenyum maka itu dapat ditafsirkan sebagai suatu kebahagiaan, ketika orang itu cemberut maka dapat ditafsirkan bahwa ia sedang ngambek. Ketika seseorang diam dalam sebuah dialog itu bisa diartikan setuju, malu, segan, marah, atau bahkan malas atau bodoh. Diam bisa diartikan setuju seperti perlakuan Rasulullah saw. yaitu ketika ada seorang sahabat yang menggosaok giginya ketika berwudhu, ini menunjukkan bahwa beliau setuju dengan perlakuan sahabat tadi namun tidak dengan penegasan. Secara implisit semua perlakuan manusia dapat memiliki makna yang akhirnya bernilai komunikasi.

Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia. Yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya (Effendi, 2002, p.28). pikiran bisa merupakan gagasan informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa merupakan keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya, yang muncul dari lubuk hati.


Pikiran bersama perasaan yang akan disampaikan kepada orang lain itu oleh walter lippman itu dinyatakan picture in our head dan oleh walter hagemann disebut bewustseinsinhalte. Yang menjadi permasalahan ialah bagaimana caranya “gambaran dalam benak” dan “isi kesadaran” pada komunikator itu dapat dimengerti, diterima, dan bahkan dilakukan oleh komunikan (Effendy, 2005, p.11).


Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (massage) , orang yang menyatakan pesan disebut komunikator (communicator) sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (communicatee). Untuk tegasnya komunikas berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. (Effendy, 2002, p.28).


Manusia sebagai mahluk social sangat membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Saling ketergantungan ini dapat terjalin secara baik jika terjadi komunikasi yang baik. Pentingnya komunikasi dengan media bahasa yang dapat saling dipahami dapat dirasakan oleh kita ketika kita membutuhkan bantuan orang lain. Adapun caranya sudah sangat beragam, bisa bicara secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung misalnya melalui telepon.


Menurut KKBI komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat diterima. Dengan berkomunikasi, kita dapat saling berhubungan satu sama lain baik dirumah, sekolah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, maupun dimanappun kita berada. Berkomunikasi pun tidak hanya dengan sesama manusia, akan tetapi juga berkomunikasi dengan Tuhan dan segala ciptaanya. 
Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Penelitian menyebutkan bahwa 70% waktu bangun kita gunakan untuk berkomunikasi. Disadari atau tidak, komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Sebab, komunikasi bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan, merupakan juga sebagai seni bergaul.


Mungkin kita pernah merasa kurang simpati kepada seseorang karena cara bicaranya yang tidak mengenakan hati. Verdaber berpendapat ada 4 tingkatan tujuan orang berkomunikasi :
1.    Pada tingkat social pertama, orang berkomunikasi untuk kesenangan belaka.
2.    Pada tingkat social kedua, orang berkomunikasi untuk menunjukan keterkaitanya dengan orang lain.
3.    Pada tingkat social ketiga, orang berkomunikasi untuk mbangun dan memelihara hubungan.
4.    Pada tingkat social keempat, orang berkomunikasi untuk menegaskan hubungan-hubungan mereka.

     Secara umum, komunikasi pun bukan hanya berkomunikasi secara verbal, melainkan juga merupakan bahasa nonverbal (bahasa tubuh) terkadang bahasa verbal sejalan dengan bahasa nonverbalnya. Artinya, apa yang diucapkan sesuai dengan gerak-gerik tubuh yang diperlihatkan. Tetapi, ada kalanya bertentangan. Misalnya, ketika seseorang mengatakan “Saya tidak bohong” kita dapat memastikanya melalui garak-gerik, ekspresi yang ditampilkanya. Kita dapat mengetahui dari bahasa nonverbalnya (bahasa tubuh) apakah dia benar-benar tidak berbohong atau sebaliknya). 

       Beberapa pakar komunikasi berpendapat bahwa seseorang yang berbicara sambil melindungi mulut dengan tangan menunjukan orang itu tidak meyakini apa yang sedang dibicarakannya. Ia mungkin berdusta, memutarbelitkan perkara, ragu, atau tidak percaya pada apa yang ia sendiri katakan. Begitu pula dengan orang yang selalu menyilangkan tanganya di antara dada dan perut ketika berbicara, dia cenderung defensive dan sukar untuk menerima pendapat kita.

Factor-faktor penghambat komunikasi antara lain adalah :
1.      Budaya : ‘the cultural shock’ keterkejutan budaya  sering tejadi kepada pendatang disuatu kelompok baru. Bila tidak dapat mengikuti irama dengan lingkungan baru, maka stress dan depresi selama berhari-hari akan terjadi. Oleh karena itu sangat disarankan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang budaya di lingkungan baru tersebut. Selain banyak berkomunikasi dengan penduduk local juga bacalah Koran atau majalah terbitan local. Dari Koran harian local biasanya akan diketahui bagaimana budaya masyarakatnya.
2.      Latar belakang pendidikan : pengetahuan yang berbeda akan menyebabkan ‘information gap’ yang terlalu jauh. Yang mempunyai pengetahuan lebih bisa menjadi guru atau penyampai ilmu baru. Akan tetapi rasa sombong bisa saja datang menghampiri yang memberi ilmu.
3.      Usia : beda generasi, beda zaman, dan pengalaman. Factor yang satu ini sering menjadi penghambat dalam keluarga. Tidak adanya saling pengertian bisa membuat setiap anggota keluarga memilih diam atau sibuk dengan urusan masing-masing. Beda pengalaman hidup akan membuat yang lebih tua merasa lebih berpengalaman dan yang muda merasa yang tua tidak paham dan ketinggalan zaman.
4.      Jenis kelamin : cara pikir yang menggunakan sudut pandang yang berbeda membuat emosi keduanya mudah sekali tersulut. Bila emosinya sudah tersulut maka masalah akan berkembang ke segala lini kehidupan yang tidak ada ujung pangkalnya.
5.      Agama : agama bisa menjadi factor penghambat komunikasi yang sangat genting. Beda pandangan mengenai cara menyembah Tuhan ini dapat berbuah permusuhan antar generasi selama berabad-abad. Bahkan satu Negara dengan Negara lainya dapat terjadi perang hanya karena menganut agama yang berbeda.





        Kesimpulan :
Inti dari penjabaran diatas adalah, kita sebagai mahluk social harus pintar, bijak, dan lebih aware dalam menghadapi segala macam bentuk komunikasi, baik yang berimbas positif maupun negative. Karena manusia dan komunikasi merupakan satu packaging yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Efektif atau tidaknya komunikasi semua tergantung bagaimana cara dan upaya manusia dalam mewujudkanya. Jadi jangan pernah mengecilkan segala bentuk komunikasi bahkan yang terkecil, karena dari hal kecil dapat berimbas sesuatu yang besar.

Sumber :

PERSEPSI DAN EMPATI


Oleh : Rizky Yumeita
(Disampaikan sebagai tugas kuliah Kegiatan Kehumasan)

Pengertian Persepsi
Persepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.[1] Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri.
Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Mangkunegara (dalam Arindita, 2002) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Adapun Robbins (2003) mendeskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka.
Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas.Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu.Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama.Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga (Taniputera, 2005).
Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk menciptakan keseluruhan gambaran yang berarti.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan.Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik.
Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor ini dari:
1) Pelaku persepsi (perceiver)
2) Objek atau yang dipersepsikan
3) Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan
Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut.Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan, motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal orang itu (Robbins, 2003).
Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain.
Oskamp (dalam Hamka, 2002) membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:
a. Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b. Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c. Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d. Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor fungsional dan struktural.Faktor fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat personal. Misalnya kebutuhan individu, usia, pengalaman masa lalu, kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat subjektif. Faktor struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya, dan norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan sesuatu.
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu faktor pemersepsi (perceiver), obyek yang dipersepsi dan konteks situasi persepsi dilakukan.

Jenis-jenis persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.
·         Persepsi visual:             
Persepsi visual:didapatkan dari indera penglihatan.Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.
·         Persepsi auditori:        
Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.[5]
·         Persepsi perabaan:
Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.[5]
·         Persepsi penciuman:  
Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.
·         Persepsi pengecapan:              
Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.

Pengertian Empathy
Empati didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain.Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Kata empati dalam bahasa inggris (Empathy) ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener sebagai usaha dari menerjemahkan kata bahasa Jerman "Einfühlungsvermögen", fenomena baru yang dieksplorasi oleh Theodor Lipps pada akhir abad 19. Setelah itu, diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Jerman sebagai "Empathie" dan digunakan di sana.
Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain.
Selain itu, Empati adalah kemampuan menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam.Empati adalah kemampuan dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut. Sebagai contoh sbb:
hari ini … anda sedang bekerja dan kemudian karena ada sesuatu hal yang menganggu aktifitas kerja hingga akhirnya mengalami penurunan aktifitas hingga akhirnya terjadi konflik dengan rekan kerja hingga dengan pimpinan disuatu perusahaan. Kemudian setelah pulang kerja, bertemu dengan teman anda dan anda diajak bareng untuk “hang out” bersama teman anda, namun teman anda merasakan anda sedang dalam kondisi gelisah, oleh karena itu teman anda mengontrol keinginannya untuk “hang out” bersama anda dan mengajak sharing tentang masalah anda.  Hal itu bisa dikatakan curhat atau sharing.Namun bila teman anda tidak ada rasa empati, maka raut muka anda menjadi tambah gelisah dan tidak tenang.Maka anda merasa tidak cocok dengan teman anda, sehingga membuat perasaan jengkel dan tidak senang. Dari contoh ini bisa ditebak, hal apa yang akan terjadi tidak ada rasa saling memahami seseorang atau orang lain
Maka dari itu cara paling baik memahami orang lain adalah dengan mengembangkan empati dalam diri anda. Empati berbeda dengan simpati. Simpati itu berusaha memahami keadaan orang lain dengan persepsi anda, bagaimana perasaan anda ketika anda berada dalam situasi yang sedang saya hadapi. Empati lebih dalam daripada simpati, empati menuntut anda berusaha memahami keadaan orang dari sudut pandang orang tersebut. Seseorang yang memiliki sikap empati lebih mudah memotivasi orang lain.

Everett M. Rogers & Dilip K. Bhowmik mendefinisikan emphaty sebagai kemampuan seseorang untuk memproyeksikan dirinya kepada peranan orang lain.
Menurut Sigmund Freudbahwa : “Empathy dianggap sebagai memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita”.
Kemudian menurut Stotland Dunn, Zender, dan Natsoulas menyatakan bahwa : “Emphaty sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain mengalami atau siap mengalami suatu emosi”.
Sedangkan menurut Milton J. Bennett menyatakan bahwa : “imaginative intellectual and emotional participation in another person’s experience” (ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain).
Menurut Jalaludin Rakhmat bahwa : “Pengertiam empati dapat dikontraskan dengan pengertiam simpati. Dalam simpati kita menempatkan diri kita secara imajinatif pada posisi orang lain. Bila saya melihat anda menangis karena kehilangan kekasih anda, saya mencoba membayangkan perasaan saya bila saya juga kehilangan kekasih.Saya beranggapan anda pun mempunyai perasaan seperti perasaan saya. Dalam empati, kita tidak menempatkan diri kita pada posisi orang lain; kita ikut serta secara emosional dan intelektual dalam pengalaman orang lain. Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain. Dengan empati kita berusaha melihat seperti orang lain melihat, merasakan seperti orang lain merasakannya.” (1985 : 166).
Apabila komunikator atau komunikan atau pun kedua-duanya (dalam situasi heterophily) mempunyai kemampuan untuk melakukan emphaty satu sama lain maka kemungkinan besar akan dapat terdapat komunikasi yang efektif.

Sumber Mengutip:
·         Gerungan, W. A. 1996. Psikologi Sosial. (edisi kedua). Bandung : PT Refika Aditama.
·         www.Google.com